Friday, 30 September 2011

._.


Penggalan dongeng yang baru saja tiba di hidup sang putri itu ternyata tak akan pernah punya kelanjutan. Sudah berakhir sampai disini saja. Menyakitkan.

Padahal jika saja ada yang tau, kemarin baru saja putri mengkhayal bahwa dongeng  ini belum selesai. Tidak seperti dongeng dongeng yang lainnya yang akan selesai begitu sang pangeran berhasil menemukan sang putri, dongeng yang ini berbeda, dongeng yang menceritakan tentang sang putri dan pangeran pujaannya, baru saja sampai pada bab baru, bab baru yang akan menceritakan tentang hidup sempurna sang putri setelah bertemu dengan pangeran pujaan hatinya.  Ya, hidup yang sempurna. Sang putri berfikir, bahwa hidup sempurna miliknya baru saja akan dimualai, setelah sang pangeran menemukannya, mereka akan hidup bahagia selamanya.

Namun khayalan itu hancur seketika, ketika esoknya, pangeran datang, dengan tatapan mata yang lain dari biasanya, dengan tatapan yang……entahlah, tak pernah terlihat sebelumnya, tak ada lagi sinar disana. Lalu semuanya terucap dengan jelas dari mulutnya, dengan muka menunduk, tak berani sedetikpun melihat mata sang putri. Dan pangeran berbalik, pergi… tanpa menoleh lagi. Meninggalkan sang putri sendirian, masih berusaha mencerna apa yang baru saja pangerannya katakan, lalu tercengang, kemudian berlari, bersembunyi, dan menangis disana.

Putri bodoh itu, baru saja menyadari bahwa mimpinya itu salah. Dan cara tuhan untuk menyadarkan putri dari dunia dongengnya itu, entah kenapa terasa sangat menyakitkan. Seperti ada beribu lubang yang menganga sangat besar, dan tak bisa ditutupi dengan bendungan air mata yang sudah mengucur begitu deras. Kisahnya, yang ini, tak lagi berakhir bahagia.


No comments:

Post a Comment