Friday, 13 January 2012

asdfghjkl

"gara gara nyokap bertanya seperti itu, gue jadi kepikiran lagi tentang dia. ada perasaan yang sama antara sehabis putus dengan pindah rumah. keduanya sama sama harus meninggalkan sesuatu yang akrab dengan diri kita. keduanya sama sama memaksa kita untuk mengingat ingat kenangan yang ada sebelumnya, disadari atau tidak. dipaksa atau tidak.
putus cinta sejatinya adalah sebuah kepindahan.
bagaimana kita pindah dari satu hati, ke hati yang lain. kadang kita rela untuk pindah, kadang kita dipaksa untuk pindah oleh orang yang kita sayang, kadang bahkan kita yang memaksa orang tersebut untuk pindah. ujung ujungnya sama: kita harus bisa maju, meninggalkan apa yang sudah menjadi ruang kosong.
sama seperti memasukkan barang barang ke kardus, gue juga harus memasukkan kenangan - kenangan gue dengan orang yang gue sayang ke semacam kardus kecil. dan, sama ketika baru putus, kenangan yang timbul paling kuat adalah yang paling awal.
seperti halnya gue ingat nyokap minta ditemani pada hari pertama dirumah baru, gue ingat sewaktu kami awal - awal ketemu dulu, awal yang kayaknya begitu menyenangkan. gue ingat bagaimana kami bertemu secara tidak sengaja. gue ingat pertama kali kami berantem, yang dulu gue anggap sebagai suatu hal yang lucu. lalu, gue ingat pertama kali kami baikan, dengan dua kelingking yang saling mengait dan sama sama mengaku bahwa kami salah. gue ingat waktu masih ngebawain dia makanan. gue ingat, dia membawakan gue makanan. lucu ya bagaimana putus cinta yang menyedihkan juga diawali oleh jatuh cinta yang menyenangkan. ya, sudahlah. bagaimanapun juga, kenangan - kenangan yang memaksa untuk diingat itu harus dipaksa masuk ke kotak."
-mms.
262841_181853258550183_100001765309444_457567_3539203_n_large

==============================

damn it. that's all true.
kalau menurut saya, gadis yang masih kelas 3smp yang sudah sok sokan memikirkan tentang cinta cintaan, perpisahan itu ada tiga macam. yang pertama, meskipun menurut saya kemungkinannya sangat kecil, kedua orang itu sama sama bahagia dengan perpisahan itu. entah karena alasan apa, mungkin saja itu yang terbaik untuk mereka.
yang kedua, satu orang dalam hubungan itu merasa bebas dan bahagia karena adanya perpisahan itu, dan yang satu lagi terpuruk. menangis sedih karena sebenarnya dia tidak siap dengan perpisahan itu, dan bodohnya mungkin-belum pernah berencana untuk bersiap siap.
dan yang ketiga, dengan adanya perpisahan itu, keduanya sama sama merasa sedih dan kehilangan, kalau sudah begini, yang menjadi masalahnya adalah siapa yang lebih cepat pulih dari kesedihan itu dan segera menemukan orang baru untuk menggantikan. meninggalkan satu orang yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri, dan terlambat untuk menang dari kesedihan itu.
mungkin, dalam kasusku, pemenang yang lebih cepat pulih dari kesedihannya itu kamu. selamat ya :-)

No comments:

Post a Comment