Thursday, 23 February 2012

hard time for dreamer.

"Puaskah kau sekarang!!??" Arai menumpahkan kemarahannya padaku.
Aku membelakanginya.
"Itukah maumu? Melukai hatinya??"
Aku masih membelakangi Arai karena aku tak ingin ia melihat pipiku telah basah.
"Apa yang terjadi denganmu, Ikal?? Mengapa jadi begini sekolahmu? Ke mana semangat itu?? Mimpi-mimpi itu??!!"
Arai geram sekali. Ia tak habis mengerti padaku.
"Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!!"
Aku tersentak dan terpaku memandangi ayahku sampai jauh, bentakan-bentakan Arai berdesingan dalam telingaku, membakar hatiku.
"Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati ...."
Aku merasa beku, serasa disiram seember air es.
"Mungkin setelah tamat SMA kita hanya akan mendulang timah atau menjadi kuli, tapi disini Kal, di sekolah ini, kita tak akan pernah mendahului nasib kita!!"
Mendahului nasib! Dua kata yang menjawab kekeliruanku memaknai arah hidupku. Pesimistis tak lebih dari sikap takabur mendahului nasib.
"Kita lakukan yang terbaik di sini!! Dan kita akan berkelana menjelajahi Eropa sampai ke Afrika!! Kita akan sekolah ke Prancis!! Kita akan menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne! Apa pun yang terjadi!!"

Sungai Lenggang halaman 153-154 
Sang Pemimpi, Andrea Hirata

(courtesy: @sanifao)

=======================

I am crying when reading this part on the novel. haaaa, it just so "sesuatu"
there are hard time for dreamer, what you must do is just don't stop!


418263_3223001090383_1127138337_33336675_1218505466_n_large

No comments:

Post a Comment